Kembali ke Titik Nol

“Janji kemerdekaan kita adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, maka janji itu dilunasi untuk setiap warga negara” Anies Baswedan.

***

Sepekan sebelum saya resmi berhenti bekerja di Republika, redaktur pelaksana saya bertanya, apa yang saya cari di Indonesia Mengajar.

Saya menjawab mantap. Ketika lulus dari institut, saya berketetapan hati akan memilih karir yang membuat saya menjadi bagian dari solusi masalah. Lantas menjadi jurnalis adalah pilihan saya.

“Apa tujuan itu tidak tercapai dengan profesi yang sekarang?” kata redpel saya di sela kesibukannya mengawasi pembuatan berita halaman utama.

“Tercapai. Tapi yang saya tahu hanya pusaran masalah di tengah-tengah negara ini. Saya ingin benar-benar punya kesempatan untuk tahu langsung masalah di lapangan,” jawab saya tanpa banyak pikir.

Redpel yang biasa saya sapa ‘kakak’ itu mengangguk-angguk lemah. Dia seolah pasrah menerima pengunduran diri saya tanpa banyak meminta agar keinginan itu dipertimbangkan kembali.

Malam ini, Pak Anies seolah menantang saya, secara tidak langsung lewat kutipan yang saya tulis di awal, untuk membuktikan jawaban tadi.

Saya juga langsung terlintas pesan dari seorang teman, bahwa Pengajar Muda akan mengemban tugas besar. Yaitu, memberitahu anak-anak di pedalaman nusantara bahwa Indonesia masih ada.

Pembukaan pelatihan intensif malam ini jauh dari kesan seremonial yang jadi rutinitas belaka. Pembukaan tadi sukses memompa emosi dan memaksa otak saya bekerja keras menjawab alasan senyatanya keberadaan di sini.

Saya pun kembali ke titik nol.

Wisma PKBI, 25 April 2011 22.53.

Short URL for this post: http://tmblr.co/ZLjuay5JXsWG